Tuesday, March 24, 2015

Don't Judge A Book By Its Cover

Posted by Dewirinanti Hayuning Prabajati at 5:57 AM 0 comments Links to this post
Oke kali ini aku mau ceritain pengalaman yang sebenernya lumayan malu-maluin. bukan lumayan lagi, tapi emang malu-maluin. Sebelumnya aku mau cerita hari sebelumnya dulu ya biar mudengin ceritanya.

24 Februari 2015

entahlah aku gak tau ini hari apa. tapi seharian ini perutku sakit banget. Dan bodohnya aku sakit perut ini aku biarin sampe seminggu. sakit perut ini udah menjalar gitu sampe diare. jadi badan lemes gitu. singkat cerita lambungku iritasi. tapi pas tanggal 24 ini ceritanya akau belum tau tuh kalo lambungku iritasi. sakit perutnya aku tahan tuh, eh malemnya aku BAB uadh ada 3 kali mungkin dan semuanya mencret! *ups. lemes banget dah tuh malemnya. untung aja besoknya itu libur. tapi kurang tau juga liburnya gara-gara apaan. malem itu juga dengan perut super melilit aku sama osa, sahabatku masih sempet hujan-hujanan ambil cajon di rumah temenku. buat yang gak tau, cajon itu semacam drum cuma buat accoustic. ya intinya buat ngepasin ritme aja kaya drum. ya pokonya gitu, malem juga grup accoustic kami masih latihan. udah tuh perut dibiarin aja. malemnya aku tidur, paginya tepar. 

25 Februari 2015

aku baru bangun sekitar jam 8. Jam 10 sebenernya grup kami ada latihan lagi di cafe, ceritanya sih buat ngisi di acara sweet seventeen gitu. Tapi sungguh waktu itu badan udah lemes banget rasanya cuma mau tiduran doang di kasur. gatau kenapa rasanya perut kayak ditusuk pake omongannya doi, perih. singkat cerita akhirnya gak ikut latihan aku. Aku berusaha banget mulihin tenaga dan badan biar sorenya bisa ikut. sorenya, perut masih belum bisa kompromi. Akhirnya aku pake benting. nah loh kaga ngerti benting. benting alias stagen itu semacam kain panjang yang digubet *lah di perut. fungsinya selain buat ngecilin perut juga bisa menekan segala aktivitas yang ada di perut. intinya aku pengen diarenya berhenti sebentar biar gak ngerusak acara :') 

Saking lemesnya aku gak bisa bawa motor. akhirnya aku minta jemput tuh sama enrico. inget ya, aku gak bawa motor.

Malemnya setelah acara, dengan masih tetap sakit perut, ada pihak dari cafe itu nawarin grup accousticku buat tampil rutin minggu pagi di cafenya. FYI aja itu cafe cabangnya banyak dan kami diminta ngisi rutin setiap minggu pagi. sayangnya sama bonyok kaga dibolehin, maklum kelas 12 mau UN kan kita.

nah masih di malem itu, tadi kan aku udah bilang kalo aku ngga bawa motor. acara baru selesai sekitar jam 10an. inget aku gak bawa motor. setelah terbujuk sama saran temen-temen akhirnya ngineplah di kos temen. nah dari cafe ke kos temen itu aku, osa, liut, tyas, anggita, enrico jalan kaki. iya kamu gak salah baca kok, jalan kaki.
kenapa enrico jalan kaki? ceritanya dia takut tuh kalo nai kmotor rambutnya berantakan lagi akhirnya pas sore dari kos dia pesen taksi dan motornya ditinggal di kos. 

di jalan, seluruh mata memandang.

YAKALI CEWE PAKE DRESS MALEM-MALEM PAKE WEDGES JALAN KAKI GAK ADA YANG NGELIATIN.

singkat cerita lagi, sampe di kos, telinga udah super panas gara-gara dibilang cabe-terong :') 
yang paling aku inget itu kita sempet berhenti di tugu deket kos buat ya sekedar foto lah. nah tiba-tiba ada mobil polisi lewat dankita lari-lari menghindari polisi gitu. yakali kita PSK sampe ngumpet gitu-___-

sekitar jam 11an kita sampe di kos. semalem itu dan enrico masih lanjutin pulang ke purbalingga. yang aku takutin enrico yang tampan nan gemulai itu bakal dibegal hatinya pas di jalan :'))))
syukurnya si kaga ya. 

Nah trus apa hubungannya cerita yang panjang-lebar ini sama judulnya?

gini ya, kita malem itu dibilang cabe-terong sama semua mata yang memandang. mereka bilang gitu soalnya malem itu emang kita memakai image manusia-berpakaianminim-bermakeup-berwajahlemas. udah tuh kaya dedek gemesnya tante-om kecepian. 

jadi dari ceritaku, bisa diambil pelajaran dikit lah walaupun ceritanya random abis. kalo kalian liat semacam cabe-cabean atau terong gitu, jangan langsung cap mereka sebagai cabe/terong ya guys. soalnya kan kita gak ngerti juga apa motif *ciemotif mereka kaya gitu. bisa aja kaya kita-kita ini yang gak ada tumpangan sehabis pesta.......
ini jam 11an ini

Tuesday, August 19, 2014

Ini Curhat

Posted by Dewirinanti Hayuning Prabajati at 5:45 AM 0 comments Links to this post
Hi there!

Udah lama banget *cieilah banget* ga ketemu ya kita. aku kangen bisa aktif nulis di blog kaya dulu lagi.
sekarang kerjaannya les-___-

tahun kedua aksel emang berat

ya tapi harus lah dijalanin namanya juga konsekuensi. kalo dari awal udah pilih aksel ya dijalanin *uhuk

by the way, aku lagi bingung nentuin kemana aku harus kuliah. bingungnya bukan karena belum tahu mau kemana, udah tau sih, cuma ya gitu masih rada gak yakin sama pilihan.

Orang tua sih cocok-cocok aja sama pilihan aku, tapi aku sendiri malah bingung.
jujur aku agak nyesel sama 3 semesterku yang lalu. itu jujur.

yang namanya anak pasti mau ya banggain orang tua mereka,

bikin orang tua bangga,

bikin orang tua seneng punya anak kaya kita,

bikin orang tua menitikkan air mata bahagia,

bikin orang tua suatu hari berkata "itu anakku lho" dengan bangganya

Tapi gini, aku itu masih rada takut sama persaingan. padahal hidup ini penuh persaingan ya wkwk

ga wajar emang, harus dihilangin emang, tapi ya gitu, susah.

aku anaknya ga pedean sih sama pilihan sendiri, makanya kadang berasa ga ngerti harus berbuat apa, harus kemana, harus gimana.

Ditambah lagi tahun ini gatau kenapa kok aku ngerasanya hari aku udah full banget. idk why.

Sebagai anak yang berbakti pada orang tua, sudah seharusnya kan aku....

bikin orang tua bangga,

bikin orang tua seneng punya anak kaya kita,

bikin orang tua menitikkan air mata bahagia,

bikin orang tua suatu hari berkata "itu anakku lho" dengan bangganya

tapi, aku takut malah ngecewain kalian, pak, bu.

trus intinya posting ini itu apa?

ya intinya aku lagi dalam keadaan bingung mau lanjut kuliah kemana, iya udah.



Yang lagi bingung,






Wednesday, April 23, 2014

Jatuh Cinta Diam-Diam

Posted by Dewirinanti Hayuning Prabajati at 2:39 AM 0 comments Links to this post

Diam, katanya emas. 
Jika memang begitu, harusnya orang yang jatuh cinta diam-diam praktis menjadi orang terkaya di dunia. 
Aku tahu! Mengapa jatuh cinta diam-diam tak kunjung membuat pelakunya kaya? 
Karena ‘emas’ yang di dapat karena diamnya habis digerogoti rasa penasaran dan kelelahan menebak-nebak.
Sesungguhnya benak orang yang jatuh cinta diam-diam adalah benak yang paling cerewet. Dalam pikirannya, orang yang jatuh cinta diam-diam akan terus berceloteh, bertanya, dan lagi, menebak. Mungkin terlihat tak ada lelahnya. Tetapi sebenarnya tak ada yang pernah menginginkan itu, hanya saja tak ada yang kuasa ketika itu menimpa dirinya.
Pertanyaan demi pertanyaan terus saja menghiasi pikiran. Aku, juga pernah jatuh cinta diam-diam. Kurang atau lebihnya, aku selalu bertanya.
“Apakah dia tahu kalau aku sering memandanginya bahkan ketika dia melakukan aktivitas sekecil apa pun?”
“Apa dia pernah melihatku, menyadari keberadaanku? Atau aku begitu tak nyata?”
“Pernahkah sedikit saja terlintas dalam pikirannya tentang aku?”
“Mengapa dia mengenakan baju dengan warna seperti warna kesukaanku?”
“Mengapa dia menyanyikan lagu favoritku di lorong kelas tadi?”
“Ah, bagaimana bisa dia bercerita ke temannya baru saja menonton film yang sudah berkali-kali aku tonton karena aku sungguh menyukainya?”
“Apakah dia punya perasaan yang sama denganku?”

Aku sering merenung, khususnya di malam hari. Tak mengerti mengapa hubungan antara satu manusia dengan manusia lain bisa begitu rumit, atau dibuat rumit oleh manusia itu sendiri? Entah.
Setahuku, komunikasi bisa meluruskan semuanya, menghilangkan penasaran, menghentikan kamu menebak-nebak. Bicara, dan kamu akan berhenti untuk lelah.
Karena orang yang jatuh cinta diam-diam, cintanya juga bisa berbalas. Balasan berupa penerimaan diam-diam, penolakan diam-diam, atau mungkin diabaikan diam-diam.

Sunday, April 13, 2014

Cerita Cinta Biasa

Posted by Dewirinanti Hayuning Prabajati at 1:04 AM 0 comments Links to this post
Gif: Tumblr (dreaming-when-lights-are-gone)
Ini tentang cerita cinta yang biasa saja. Tentang seorang pria yang berjalan di sebuah trotoar basah. Air hujan kala itu menyamarkan genang di matanya.
Tidak terjatuh. Air itu menggantung di pelupuk. Seperti rasa sesal yang tertumpuk. Bintik air mulai membasahi kemeja birunya. Ujung dasinya ia gulung kemudian dimasukkannya ke kantung kemeja, seperti enggan membuka dasi itu sama sekali. Tak ingin kebasahan, tapi melindunginya pun setengah hati.
Ada yang istimewa dengan dasi hitam itu.
Seolah tak takut pada rintik hujan, pria itu sama sekali tak mempercepat langkah kakinya. Tak ada kenaikan volume suara dari pantofel yang beradu dengan trotoar. Sesekali ia menengok ke kiri. Toko dan kedai satu persatu ia lewati.
Kali ini dia meluruskan tangannya ke depan, hanya untuk menyingsingkan lengan kemejanya, lalu membengkokkan sikunya hingga pergelangan tangan mendekati dada. Jarum jam di jam tangan hitamnya menunjukkan pukul 5.47 sore.
Sudah dua blok pria itu berjalan. Bahunya sudah membentur bahu orang lain tiga kali, hampir bertabrakan melawan lalu-lalangnya orang.
Pria itu memperlambat langkahnya, menengadah ke langit. Namun kini tak ada lagi titik air menjatuhi wajahnya. Hujan sudah reda. Ia bersandar di dinding sebuah toko roti. Seperti banyak yang dipikirkan, dahinya mengerut. Bola matanya menatap ke arah sudut kiri kelopaknya.
Tangannya mengepal. Ia memukul tembok. Kesal. Sekaligus terkejut. Ada sesosok pria terduduk satu setengah meter di kiri pria itu. Seorang pria lainnya. Sesosok pria tak berumah.
Gelandangan itu memegang sepotong kardus bertuliskan “uang, atau sebuah senyuman”.
Foto: Tumblr (thatfuckedupglory)
Mata sang pria memincing. Namun kemudian ia tersenyum. Berjalan perlahan mendekati si gelandangan, merogoh kantung celana bahannya, kemudian membungkuk. Diberikannya beberapa keping koin kembalian membeli kopi tadi sepulangnya bekerja. Pria itu tersenyum sekali lagi.
Gelandangan itu bertanya, “Hendak ke mana, Nak?”
“Entahlah. Aku pun tak tahu.”
“Mengapa berjalan jika tak tahu tujuan?”
“Aku ingin bertemu seseorang.”
Gelandangan itu menatap wajah sang pria lebih dalam dari sebelumnya, sebelum kemudian mengangguk perlahan mengusap janggut putihnya yang lebat. “Mengapa kamu memberikan semuanya?”
“Aku hanya memberikanmu koin,” jawab sang pria sedikit terheran, “bahkan ini masih ada sisa koin di sakuku.”
“Bukan. Aku hanya meminta uang, atau sebuah senyuman.”
“Ah, iya. Kalau bisa memberi semua, mengapa harus salah satu?”
Gelandangan itu tersenyum. “Kejarlah, Nak. Jangan setengah-setengah.”
Sang pria terdiam. Matanya terbuka. Ada degupan kencang di dadanya seraya ia berdiri kembali. Seketika ia melanjutkan langkahnya. Mempercepatnya. Bukan. Berlari!
Bagian bawah kemejanya mulai mengering, hanya tinggal bagian bahunya saja yang basah. Pria itu berhenti di satu persimpangan. Tepat di depan sebuah kios majalah. Sang pria menatap ke arah tiang lampu lalu lintas. Bibirnya terbuka membaca perlahan tulisan dari spidol merah di tiang itu.
Jio.
Ia berbalik dan menoleh ke arah kios majalah. Sontak pikiran pria itu terlempar jauh ke belakang. Tergambar sosok perempuan berambut panjang, tak terlalu lurus, sedikit ikal. Hidungnya tak mancung, malah cenderung besar. Pipinya pun mengingatkan pria itu tentang bakpao yang sering dijadikannya bahan ejekan untuk sang perempuan. Pria itu memanggilnya Jio.
Pria itu ingat betul perempuan yang ada di bayangannya sekarang sering mengeluhkan dirinya gendut. Perempuan yang sering merasa gendut itu telah membuat sang pria kurus karena sering memikirkannya.
24 menit sudah sang pria berdiri di persimpangan jalan itu. Selama itu, ia menancapkan tatapan ke kios majalah. Menunggu. Pria itu sesekali melihat jam tangannya. Kali ini jam tangannya menunjukkan pukul 6.57 malam.
“Harusnya sudah datang,” gumamnya.
Hingga Jio akhirnya tiba di kios majalah. Berbicara kepada penjaganya, menyerahkan sejumlah uang, dan mengambil majalah bergambar rumah di cover-nya.
Degup di dada sang pria semakin kencang. Ada lagi informasi kecil yang membangkitkan memori.Jio suka hal berbau interior. Pria itu mendadak ingat pernah membelikan Jio kursi unik berbentuk segitiga berwarna hijau sebagai hadiah ulang tahunnya.
Dengan keberanian terbesar yang selama ini ia kumpulkan, pria itu melangkah menghampiri Jio. Berhenti dan berdiri tetap di hadapannya. Jio terkejut, kemudian melihat dari kaki hingga kepala pria itu.
Jio, aku cuma ingin meminta maaf.”
“Nggak ada lagi …”
Belum selesai Jio bicara, pria itu menyambarnya. “Seumur hidupku aku nggak bisa hidup seperti ini. Hidup yang tanpa kamu di dalamnya.”
Jio terhenyak. Pipinya basah. “Aku yang harusnya minta maaf.”
Jio melangkah ke arah kanan pria itu. Cepat.
Belum sempat pria itu mengejar, Jio sudah disambut seorang pria dengan raut wajah agak kebingungan. Bahasa bibirnya menunjukkan, “Kamu kenapa?” bertanya kepada Jio, kemudian melayangkan sebuah pelukan di pundak.
Pria itu bergeming. Matanya menatap nanar. Bertambah lagi perbendaharaan sekuen pahit di hatinya. Yang bisa ia lakukan hanyalah merogoh sisa koin di kantung celananya, kemudian memandanginya. “Mengapa waktu itu tak kuberikan sepenuhnya?”
Pria itu menyesal karena tak selalu ada. Ia menyesal karena tak memberikan semua yang dipunya. Ia longgarkan simpul dasi hitam di kerah kemejanya dengan tangan kiri. Menggoyang-goyangkannya sedikit, kemudian melepasnya. Tak membuangnya, tapi menggenggamnya. Seperti hatinya masih ingin menggenggam, tapi harus melepas.
Kini, dahinya hanya bisa mengerut, menahan air mata untuk tak jatuh. Hanya tak ingin kelihatan cengeng.
Namun ada yang tak biasa dari alis tebalnya yang mengernyit. Sebuah petir menghunjam denyut jantungnya berupa rasa sakit. Sakit luar biasa, yang semuanya bermuara pada satu frasa. Rasa sesal.
Ini tentang cerita cinta yang biasa saja. Tentang seorang pria yang mencinta dengan biasa. Sebiasa ia bernapas. Saking terbiasa, hingga akhirnya sang pria tak bisa hidup tanpanya.

Saturday, April 12, 2014

Posted by Dewirinanti Hayuning Prabajati at 8:29 AM 0 comments Links to this post
Ada saatnya matahari harus tenggelam
Dan bila saat itu tiba, segala sesuatunya memang menjadi gelap
Tapi kita harus tahu bahwa Tuhan
memberikan bintang sebagai lentera dan bahwa sesudah terbenamnya, 
Matahari pasti akan terbit lagi hari esok.

-dwrnnthp



Merpatiku Telah Hilang Pergi

Posted by Dewirinanti Hayuning Prabajati at 6:39 AM 0 comments Links to this post
Merpatiku Telah Hilang Pergi

Author: Dewirinanti H.P

N
amaku Amalia Yosi Firdausa, panggil aku Osa. Hari ini hari pertamaku masuk sekolah. Di sebuah kelas di ujung lorong. Kulihat wajah-wajah yang tampak asing bagiku. Di keasingan itu, kulihat sebuah karunia Tuhan yang sampai saat ini aku sebut “semangat hidup”. Aku tak bisa lepas dari tatapan pertamaku, tatapan dimana aku terjebak dalam dimensi waktu yang seakan-akan berhenti berlari ketika bertatapan dengan sosok itu.

            Hari berganti hari, setiap bel kehidupan berbunyi ingin rasanya aku berlari menjumpai sosok tampan yang ku tak tahu namanya itu.

            Hari ini pelajaran olahraga, aku menyeka peluh di wajahku sembari menatap kelasnya yang kuanggap sebagai surga di sekolahku. Tenggorokanku sangat kering sehingga kupalingkan surga itu sejenak untuk membasahi tenggorokanku. Kulangkahkan kakiku menuju koperasi yang letaknya jauh dari “surga” itu. Sesaat setelah aku membuka lemari pendingin untuk mengambil minum, kulihat tangan yang kecoklatan, yang tidak asing lagi bagi mataku. Saat kuberanikan diri menatap wajahnya, dia menatapku kembali. Mata kami bertemu dan saat kusadar, dialah cahaya hidupku. Waktu seakan berhenti, kami berdua melempar senyum bersamaan seakan berkata berpisah. Setelah kejadian itu, kutahu sudah namanya, Prabandaru Samuel Haryono.

            Sam, nama yang indah, nama yang gagah. Nama yang tampan. Setampan dan segagah parasnya. Hari berganti hari, aku sudah mulai mengenali seluk-beluk tentang dirinya karena dia juga anak populer di sekolah. Selain itu, dia juga mahir dalam bela diri. Dia tergabung dalam kelompok silat “Merpati Putih”. Aku menyesal karena sudah terlanjur tidak memilih ekskul yang sama dengan Sam. Padahal awalnya aku ingin masuk ke ekskul itu, untuk meneruskan karirku dalam bidang bela diri.

            Tak terasa, sudah 1 semester aku dan Sam menjadi kakak dan adik kelas. Sudah 1 semester pula aku menatapnya satu arah tanpa dia mengetahui keberadaanku. Miris memang, tetapi apa dayaku untuk menjadi dekat dan menjadi sorotannya. Mungkin baginya aku hanyalah angin lalu yang hanya sesaat, tapi bagiku ia lebih dari sekedar angin, bagiku ia udara. Tanpanya tak ada pula semangatku.

            Aku merasa bersalah, karena tujuanku untuk datang ke sekolah sudah teralihkan. Yang awalnya berniat untuk menimba ilmu, namun yang terjadi hanya menimba info Sam. Aku sadar aku sudah seharusnya rajin belajar, tapi apa daya hatiku berkata lain, Sam sudah berhasil mencuri hatiku dan juga pikiranku.

            Setelah sekian lama, aku mulai mencari tahu tentang apapun tentangnya di sosial media. Dia bukan anak yang eksis di Facebook atau semacamnya. Kuberanikan diri untuk menekan tombol ADD FRIEND yang sampai sekarang tak kunjung dikonfirmasinya. Sedih rasanya, namun siapalah aku ini.

            Sore ini aku mengikuti kegiatan pramuka yang tentu saja menginap. Disitu mulai kukenal teman satu angkatanku yang juga “menjabat” sebagai Penggemar Rahasia Para Senior. Entah pesona apa yang dimiliki para senior kami sehingga kami takluk dibuatnya. Sebut saja Barbie, ia teman satu regu denganku. Ia juga anak Merpati Putih. Jujur aku sering merasa iri dengannya, ia yang terkenal supel dan cantik. Tak heran maka banyak senior yang terpikat olehnya.

            Malam saat kami sedang menikmati dingin, kami dikejutkan dengan suara Barbie yang baru saja mendapat pesan singkat dari Sam, “EH MAS SAM SMS AKU NIH!”. Saat aku mendengarnya, entah apa yang telah menyambar hatiku hingga menusuk ke dalam. Sakit sekali. Karena tak tahan dengan hal itu, aku memilih pergi dari kawananku.
            Setelah kejadian itu, mulai pupus harapanku untuk mendapatkan sosok tampan ber-ninja itu. Tetapi saat harapan itu pupus, sosok itu justru datang kembali membawa sejuta pesona barunya hingga hatiku tak kuasa menolak pesonanya, “AAA SAM POTONG KUMIS JADI TAMBAH CUTEEEE!!!”.

            Selepas kedatangan dia kembali ke hatiku, banyak kejadian yang mulai mendekatkan aku dengannya kembali. Bertemu di Musholla, dan entah berapa kali mata kami bertemu. Aku sangat menikmati kedekatan kami yang jauh itu. Aku senang kami bisa sedekat ini.

            Suatu hari kulihat ia bermain basket di lapangan,
“Sungguh tampan ciptaan-Mu yang satu itu ya Tuhan” , gumamku.
Peluh yang membasahi wajahnya, membuatnya terlihat lebih tampan, lebih keren dari biasanya. Entah apa lagi yang menyambar hatiku, rasanya seperti tersambar petir yang membawa zat-zat aneh yang disebut cinta.

“Dia tampan, apa mungkin ia menyukaiku? Atau hanya pungguk yang merindukan bulan?”

            Di siang yang panas ini, seperti biasa, kulekatkan pandanganku ke arah XII IPA 4, kelas Sam. Terlintas di benakku, sedang apa ia sekarang. Apa yang dia pikirkan sekarang. Ah tapi sudahlah, siapakah aku ini. Suatu saat, aku mencoba membuka profilnya di facebook. Saat aku mulai men-stalking accountnya, saat itu jugalah aku patah hati. Kulihat seorang perempuan yang tidak kukenal, memasang nama Sam sebagai sampulnya. Patah hatilah aku. Pupus sudah harapanku. Aku tak lagi berharap apapun tentang dia (lagi).

            Saat ku mulai berhenti untuk menyukainya, dia justru datang. Berusaha mengobati luka lamaku mungkin. Harapanku yang hancur kini mulai ditata ulang olehnya, entahlah. Tapi aku senang dia datang kembali. Ia tersenyum padaku, ia mulai bercerita tentang masa lalunya padaku. Aku dan dia dekat, sekarang. Bahkan tempat duduk di ninjanya pernah kutempati. Tak pernah kusangka bisa sedekat ini, lebih dekat dari sekedar senyum dari kejauhan. Ya memang status kami hanya teman, tapi apalah arti sebuah status? Aku bahagia bisa SEDEKAT ini dengannya. Merengkuh tangannya, merasakan hangatnya genggamannya. Seakan dialah milikku, dan akulah miliknya. “Tuhan, jangan pisahkan kami (lagi)” batinku. Dialah semangat hidupku yang pernah hilang dan sekarang datang kembali.

            Tak terasa sudah satu tahun aku menjadi adik kelas Sam. Kabarku sekarang baik, Sam juga baik. Tapi kisah kami tidak.

            Hari itu malam perpisahan di sekolah kami. Aku datang kesana tanpa Sam. Sam berkata bahwa ia tak akan datang karena ia tak menyukai pesta. Saat arlojiku menunjukkan angka 10, aku melihat sosok tampan yang sangat kukenali wajahnya, sangat kuhafal wangi parfumnya. Ya, itu Sam! Lalu mengapa ia disini? Coba kubuntuti dia sampai akhirnya ia berhenti di depan kelasnya. Aku hanya bisa melihat dari ujung lorong. Tempat dimana Sam tidak menyadari keberadaanku. Aku melihat Sam berbicara dengan seorang perempuan yang aku kenal. Ya, dia sahabatku sendiri, Lia. Kulihat dari kejauhan, Sam memberi sekuntum mawar merah lengkap dengan kado berkotak merah muda. Tak lupa Sam memberi kecupan di dahi Lia. Betapa hancur hatiku melihat kejadian itu. Kejadian yang lebih memilukan daripada remidi fisika.

“Jadi apa arti genggaman tangan itu? Apa arti semua puisi yang dikirimkannya di pagi hari? Apa arti setiap lagu yang pernah ia mainkan untukku? Apa arti semua mawar merah yang selalu ia berikan setiap pagi?”

Tak kusadari air mataku perlahan jatuh membasahi pipiku, dadaku terasa sesak, ingin rasanya kubunuh mereka.

            Melihat mereka yang seperti itu, tanpa pikir panjang lagi aku pergi menghampiri sepedaku. Kukayuh pedal dengan sekuat tenaga hingga darah mulai mengalir dari kakiku.

“Hatiku berdarah, begitu pula kakiku. Lalu bagaimana aku akan bangkit?”

Air mata yang menetes, darah, serta hujan mengiringi sakit hatiku di malam itu.



Merpatiku Telah Hilang Pergi. 

Tuesday, March 24, 2015

Don't Judge A Book By Its Cover

Posted by Dewirinanti Hayuning Prabajati at 5:57 AM 0 comments Links to this post
Oke kali ini aku mau ceritain pengalaman yang sebenernya lumayan malu-maluin. bukan lumayan lagi, tapi emang malu-maluin. Sebelumnya aku mau cerita hari sebelumnya dulu ya biar mudengin ceritanya.

24 Februari 2015

entahlah aku gak tau ini hari apa. tapi seharian ini perutku sakit banget. Dan bodohnya aku sakit perut ini aku biarin sampe seminggu. sakit perut ini udah menjalar gitu sampe diare. jadi badan lemes gitu. singkat cerita lambungku iritasi. tapi pas tanggal 24 ini ceritanya akau belum tau tuh kalo lambungku iritasi. sakit perutnya aku tahan tuh, eh malemnya aku BAB uadh ada 3 kali mungkin dan semuanya mencret! *ups. lemes banget dah tuh malemnya. untung aja besoknya itu libur. tapi kurang tau juga liburnya gara-gara apaan. malem itu juga dengan perut super melilit aku sama osa, sahabatku masih sempet hujan-hujanan ambil cajon di rumah temenku. buat yang gak tau, cajon itu semacam drum cuma buat accoustic. ya intinya buat ngepasin ritme aja kaya drum. ya pokonya gitu, malem juga grup accoustic kami masih latihan. udah tuh perut dibiarin aja. malemnya aku tidur, paginya tepar. 

25 Februari 2015

aku baru bangun sekitar jam 8. Jam 10 sebenernya grup kami ada latihan lagi di cafe, ceritanya sih buat ngisi di acara sweet seventeen gitu. Tapi sungguh waktu itu badan udah lemes banget rasanya cuma mau tiduran doang di kasur. gatau kenapa rasanya perut kayak ditusuk pake omongannya doi, perih. singkat cerita akhirnya gak ikut latihan aku. Aku berusaha banget mulihin tenaga dan badan biar sorenya bisa ikut. sorenya, perut masih belum bisa kompromi. Akhirnya aku pake benting. nah loh kaga ngerti benting. benting alias stagen itu semacam kain panjang yang digubet *lah di perut. fungsinya selain buat ngecilin perut juga bisa menekan segala aktivitas yang ada di perut. intinya aku pengen diarenya berhenti sebentar biar gak ngerusak acara :') 

Saking lemesnya aku gak bisa bawa motor. akhirnya aku minta jemput tuh sama enrico. inget ya, aku gak bawa motor.

Malemnya setelah acara, dengan masih tetap sakit perut, ada pihak dari cafe itu nawarin grup accousticku buat tampil rutin minggu pagi di cafenya. FYI aja itu cafe cabangnya banyak dan kami diminta ngisi rutin setiap minggu pagi. sayangnya sama bonyok kaga dibolehin, maklum kelas 12 mau UN kan kita.

nah masih di malem itu, tadi kan aku udah bilang kalo aku ngga bawa motor. acara baru selesai sekitar jam 10an. inget aku gak bawa motor. setelah terbujuk sama saran temen-temen akhirnya ngineplah di kos temen. nah dari cafe ke kos temen itu aku, osa, liut, tyas, anggita, enrico jalan kaki. iya kamu gak salah baca kok, jalan kaki.
kenapa enrico jalan kaki? ceritanya dia takut tuh kalo nai kmotor rambutnya berantakan lagi akhirnya pas sore dari kos dia pesen taksi dan motornya ditinggal di kos. 

di jalan, seluruh mata memandang.

YAKALI CEWE PAKE DRESS MALEM-MALEM PAKE WEDGES JALAN KAKI GAK ADA YANG NGELIATIN.

singkat cerita lagi, sampe di kos, telinga udah super panas gara-gara dibilang cabe-terong :') 
yang paling aku inget itu kita sempet berhenti di tugu deket kos buat ya sekedar foto lah. nah tiba-tiba ada mobil polisi lewat dankita lari-lari menghindari polisi gitu. yakali kita PSK sampe ngumpet gitu-___-

sekitar jam 11an kita sampe di kos. semalem itu dan enrico masih lanjutin pulang ke purbalingga. yang aku takutin enrico yang tampan nan gemulai itu bakal dibegal hatinya pas di jalan :'))))
syukurnya si kaga ya. 

Nah trus apa hubungannya cerita yang panjang-lebar ini sama judulnya?

gini ya, kita malem itu dibilang cabe-terong sama semua mata yang memandang. mereka bilang gitu soalnya malem itu emang kita memakai image manusia-berpakaianminim-bermakeup-berwajahlemas. udah tuh kaya dedek gemesnya tante-om kecepian. 

jadi dari ceritaku, bisa diambil pelajaran dikit lah walaupun ceritanya random abis. kalo kalian liat semacam cabe-cabean atau terong gitu, jangan langsung cap mereka sebagai cabe/terong ya guys. soalnya kan kita gak ngerti juga apa motif *ciemotif mereka kaya gitu. bisa aja kaya kita-kita ini yang gak ada tumpangan sehabis pesta.......
ini jam 11an ini

Tuesday, August 19, 2014

Ini Curhat

Posted by Dewirinanti Hayuning Prabajati at 5:45 AM 0 comments Links to this post
Hi there!

Udah lama banget *cieilah banget* ga ketemu ya kita. aku kangen bisa aktif nulis di blog kaya dulu lagi.
sekarang kerjaannya les-___-

tahun kedua aksel emang berat

ya tapi harus lah dijalanin namanya juga konsekuensi. kalo dari awal udah pilih aksel ya dijalanin *uhuk

by the way, aku lagi bingung nentuin kemana aku harus kuliah. bingungnya bukan karena belum tahu mau kemana, udah tau sih, cuma ya gitu masih rada gak yakin sama pilihan.

Orang tua sih cocok-cocok aja sama pilihan aku, tapi aku sendiri malah bingung.
jujur aku agak nyesel sama 3 semesterku yang lalu. itu jujur.

yang namanya anak pasti mau ya banggain orang tua mereka,

bikin orang tua bangga,

bikin orang tua seneng punya anak kaya kita,

bikin orang tua menitikkan air mata bahagia,

bikin orang tua suatu hari berkata "itu anakku lho" dengan bangganya

Tapi gini, aku itu masih rada takut sama persaingan. padahal hidup ini penuh persaingan ya wkwk

ga wajar emang, harus dihilangin emang, tapi ya gitu, susah.

aku anaknya ga pedean sih sama pilihan sendiri, makanya kadang berasa ga ngerti harus berbuat apa, harus kemana, harus gimana.

Ditambah lagi tahun ini gatau kenapa kok aku ngerasanya hari aku udah full banget. idk why.

Sebagai anak yang berbakti pada orang tua, sudah seharusnya kan aku....

bikin orang tua bangga,

bikin orang tua seneng punya anak kaya kita,

bikin orang tua menitikkan air mata bahagia,

bikin orang tua suatu hari berkata "itu anakku lho" dengan bangganya

tapi, aku takut malah ngecewain kalian, pak, bu.

trus intinya posting ini itu apa?

ya intinya aku lagi dalam keadaan bingung mau lanjut kuliah kemana, iya udah.



Yang lagi bingung,






Wednesday, April 23, 2014

Jatuh Cinta Diam-Diam

Posted by Dewirinanti Hayuning Prabajati at 2:39 AM 0 comments Links to this post

Diam, katanya emas. 
Jika memang begitu, harusnya orang yang jatuh cinta diam-diam praktis menjadi orang terkaya di dunia. 
Aku tahu! Mengapa jatuh cinta diam-diam tak kunjung membuat pelakunya kaya? 
Karena ‘emas’ yang di dapat karena diamnya habis digerogoti rasa penasaran dan kelelahan menebak-nebak.
Sesungguhnya benak orang yang jatuh cinta diam-diam adalah benak yang paling cerewet. Dalam pikirannya, orang yang jatuh cinta diam-diam akan terus berceloteh, bertanya, dan lagi, menebak. Mungkin terlihat tak ada lelahnya. Tetapi sebenarnya tak ada yang pernah menginginkan itu, hanya saja tak ada yang kuasa ketika itu menimpa dirinya.
Pertanyaan demi pertanyaan terus saja menghiasi pikiran. Aku, juga pernah jatuh cinta diam-diam. Kurang atau lebihnya, aku selalu bertanya.
“Apakah dia tahu kalau aku sering memandanginya bahkan ketika dia melakukan aktivitas sekecil apa pun?”
“Apa dia pernah melihatku, menyadari keberadaanku? Atau aku begitu tak nyata?”
“Pernahkah sedikit saja terlintas dalam pikirannya tentang aku?”
“Mengapa dia mengenakan baju dengan warna seperti warna kesukaanku?”
“Mengapa dia menyanyikan lagu favoritku di lorong kelas tadi?”
“Ah, bagaimana bisa dia bercerita ke temannya baru saja menonton film yang sudah berkali-kali aku tonton karena aku sungguh menyukainya?”
“Apakah dia punya perasaan yang sama denganku?”

Aku sering merenung, khususnya di malam hari. Tak mengerti mengapa hubungan antara satu manusia dengan manusia lain bisa begitu rumit, atau dibuat rumit oleh manusia itu sendiri? Entah.
Setahuku, komunikasi bisa meluruskan semuanya, menghilangkan penasaran, menghentikan kamu menebak-nebak. Bicara, dan kamu akan berhenti untuk lelah.
Karena orang yang jatuh cinta diam-diam, cintanya juga bisa berbalas. Balasan berupa penerimaan diam-diam, penolakan diam-diam, atau mungkin diabaikan diam-diam.

Sunday, April 13, 2014

Cerita Cinta Biasa

Posted by Dewirinanti Hayuning Prabajati at 1:04 AM 0 comments Links to this post
Gif: Tumblr (dreaming-when-lights-are-gone)
Ini tentang cerita cinta yang biasa saja. Tentang seorang pria yang berjalan di sebuah trotoar basah. Air hujan kala itu menyamarkan genang di matanya.
Tidak terjatuh. Air itu menggantung di pelupuk. Seperti rasa sesal yang tertumpuk. Bintik air mulai membasahi kemeja birunya. Ujung dasinya ia gulung kemudian dimasukkannya ke kantung kemeja, seperti enggan membuka dasi itu sama sekali. Tak ingin kebasahan, tapi melindunginya pun setengah hati.
Ada yang istimewa dengan dasi hitam itu.
Seolah tak takut pada rintik hujan, pria itu sama sekali tak mempercepat langkah kakinya. Tak ada kenaikan volume suara dari pantofel yang beradu dengan trotoar. Sesekali ia menengok ke kiri. Toko dan kedai satu persatu ia lewati.
Kali ini dia meluruskan tangannya ke depan, hanya untuk menyingsingkan lengan kemejanya, lalu membengkokkan sikunya hingga pergelangan tangan mendekati dada. Jarum jam di jam tangan hitamnya menunjukkan pukul 5.47 sore.
Sudah dua blok pria itu berjalan. Bahunya sudah membentur bahu orang lain tiga kali, hampir bertabrakan melawan lalu-lalangnya orang.
Pria itu memperlambat langkahnya, menengadah ke langit. Namun kini tak ada lagi titik air menjatuhi wajahnya. Hujan sudah reda. Ia bersandar di dinding sebuah toko roti. Seperti banyak yang dipikirkan, dahinya mengerut. Bola matanya menatap ke arah sudut kiri kelopaknya.
Tangannya mengepal. Ia memukul tembok. Kesal. Sekaligus terkejut. Ada sesosok pria terduduk satu setengah meter di kiri pria itu. Seorang pria lainnya. Sesosok pria tak berumah.
Gelandangan itu memegang sepotong kardus bertuliskan “uang, atau sebuah senyuman”.
Foto: Tumblr (thatfuckedupglory)
Mata sang pria memincing. Namun kemudian ia tersenyum. Berjalan perlahan mendekati si gelandangan, merogoh kantung celana bahannya, kemudian membungkuk. Diberikannya beberapa keping koin kembalian membeli kopi tadi sepulangnya bekerja. Pria itu tersenyum sekali lagi.
Gelandangan itu bertanya, “Hendak ke mana, Nak?”
“Entahlah. Aku pun tak tahu.”
“Mengapa berjalan jika tak tahu tujuan?”
“Aku ingin bertemu seseorang.”
Gelandangan itu menatap wajah sang pria lebih dalam dari sebelumnya, sebelum kemudian mengangguk perlahan mengusap janggut putihnya yang lebat. “Mengapa kamu memberikan semuanya?”
“Aku hanya memberikanmu koin,” jawab sang pria sedikit terheran, “bahkan ini masih ada sisa koin di sakuku.”
“Bukan. Aku hanya meminta uang, atau sebuah senyuman.”
“Ah, iya. Kalau bisa memberi semua, mengapa harus salah satu?”
Gelandangan itu tersenyum. “Kejarlah, Nak. Jangan setengah-setengah.”
Sang pria terdiam. Matanya terbuka. Ada degupan kencang di dadanya seraya ia berdiri kembali. Seketika ia melanjutkan langkahnya. Mempercepatnya. Bukan. Berlari!
Bagian bawah kemejanya mulai mengering, hanya tinggal bagian bahunya saja yang basah. Pria itu berhenti di satu persimpangan. Tepat di depan sebuah kios majalah. Sang pria menatap ke arah tiang lampu lalu lintas. Bibirnya terbuka membaca perlahan tulisan dari spidol merah di tiang itu.
Jio.
Ia berbalik dan menoleh ke arah kios majalah. Sontak pikiran pria itu terlempar jauh ke belakang. Tergambar sosok perempuan berambut panjang, tak terlalu lurus, sedikit ikal. Hidungnya tak mancung, malah cenderung besar. Pipinya pun mengingatkan pria itu tentang bakpao yang sering dijadikannya bahan ejekan untuk sang perempuan. Pria itu memanggilnya Jio.
Pria itu ingat betul perempuan yang ada di bayangannya sekarang sering mengeluhkan dirinya gendut. Perempuan yang sering merasa gendut itu telah membuat sang pria kurus karena sering memikirkannya.
24 menit sudah sang pria berdiri di persimpangan jalan itu. Selama itu, ia menancapkan tatapan ke kios majalah. Menunggu. Pria itu sesekali melihat jam tangannya. Kali ini jam tangannya menunjukkan pukul 6.57 malam.
“Harusnya sudah datang,” gumamnya.
Hingga Jio akhirnya tiba di kios majalah. Berbicara kepada penjaganya, menyerahkan sejumlah uang, dan mengambil majalah bergambar rumah di cover-nya.
Degup di dada sang pria semakin kencang. Ada lagi informasi kecil yang membangkitkan memori.Jio suka hal berbau interior. Pria itu mendadak ingat pernah membelikan Jio kursi unik berbentuk segitiga berwarna hijau sebagai hadiah ulang tahunnya.
Dengan keberanian terbesar yang selama ini ia kumpulkan, pria itu melangkah menghampiri Jio. Berhenti dan berdiri tetap di hadapannya. Jio terkejut, kemudian melihat dari kaki hingga kepala pria itu.
Jio, aku cuma ingin meminta maaf.”
“Nggak ada lagi …”
Belum selesai Jio bicara, pria itu menyambarnya. “Seumur hidupku aku nggak bisa hidup seperti ini. Hidup yang tanpa kamu di dalamnya.”
Jio terhenyak. Pipinya basah. “Aku yang harusnya minta maaf.”
Jio melangkah ke arah kanan pria itu. Cepat.
Belum sempat pria itu mengejar, Jio sudah disambut seorang pria dengan raut wajah agak kebingungan. Bahasa bibirnya menunjukkan, “Kamu kenapa?” bertanya kepada Jio, kemudian melayangkan sebuah pelukan di pundak.
Pria itu bergeming. Matanya menatap nanar. Bertambah lagi perbendaharaan sekuen pahit di hatinya. Yang bisa ia lakukan hanyalah merogoh sisa koin di kantung celananya, kemudian memandanginya. “Mengapa waktu itu tak kuberikan sepenuhnya?”
Pria itu menyesal karena tak selalu ada. Ia menyesal karena tak memberikan semua yang dipunya. Ia longgarkan simpul dasi hitam di kerah kemejanya dengan tangan kiri. Menggoyang-goyangkannya sedikit, kemudian melepasnya. Tak membuangnya, tapi menggenggamnya. Seperti hatinya masih ingin menggenggam, tapi harus melepas.
Kini, dahinya hanya bisa mengerut, menahan air mata untuk tak jatuh. Hanya tak ingin kelihatan cengeng.
Namun ada yang tak biasa dari alis tebalnya yang mengernyit. Sebuah petir menghunjam denyut jantungnya berupa rasa sakit. Sakit luar biasa, yang semuanya bermuara pada satu frasa. Rasa sesal.
Ini tentang cerita cinta yang biasa saja. Tentang seorang pria yang mencinta dengan biasa. Sebiasa ia bernapas. Saking terbiasa, hingga akhirnya sang pria tak bisa hidup tanpanya.

Saturday, April 12, 2014

Posted by Dewirinanti Hayuning Prabajati at 8:29 AM 0 comments Links to this post
Ada saatnya matahari harus tenggelam
Dan bila saat itu tiba, segala sesuatunya memang menjadi gelap
Tapi kita harus tahu bahwa Tuhan
memberikan bintang sebagai lentera dan bahwa sesudah terbenamnya, 
Matahari pasti akan terbit lagi hari esok.

-dwrnnthp



Merpatiku Telah Hilang Pergi

Posted by Dewirinanti Hayuning Prabajati at 6:39 AM 0 comments Links to this post
Merpatiku Telah Hilang Pergi

Author: Dewirinanti H.P

N
amaku Amalia Yosi Firdausa, panggil aku Osa. Hari ini hari pertamaku masuk sekolah. Di sebuah kelas di ujung lorong. Kulihat wajah-wajah yang tampak asing bagiku. Di keasingan itu, kulihat sebuah karunia Tuhan yang sampai saat ini aku sebut “semangat hidup”. Aku tak bisa lepas dari tatapan pertamaku, tatapan dimana aku terjebak dalam dimensi waktu yang seakan-akan berhenti berlari ketika bertatapan dengan sosok itu.

            Hari berganti hari, setiap bel kehidupan berbunyi ingin rasanya aku berlari menjumpai sosok tampan yang ku tak tahu namanya itu.

            Hari ini pelajaran olahraga, aku menyeka peluh di wajahku sembari menatap kelasnya yang kuanggap sebagai surga di sekolahku. Tenggorokanku sangat kering sehingga kupalingkan surga itu sejenak untuk membasahi tenggorokanku. Kulangkahkan kakiku menuju koperasi yang letaknya jauh dari “surga” itu. Sesaat setelah aku membuka lemari pendingin untuk mengambil minum, kulihat tangan yang kecoklatan, yang tidak asing lagi bagi mataku. Saat kuberanikan diri menatap wajahnya, dia menatapku kembali. Mata kami bertemu dan saat kusadar, dialah cahaya hidupku. Waktu seakan berhenti, kami berdua melempar senyum bersamaan seakan berkata berpisah. Setelah kejadian itu, kutahu sudah namanya, Prabandaru Samuel Haryono.

            Sam, nama yang indah, nama yang gagah. Nama yang tampan. Setampan dan segagah parasnya. Hari berganti hari, aku sudah mulai mengenali seluk-beluk tentang dirinya karena dia juga anak populer di sekolah. Selain itu, dia juga mahir dalam bela diri. Dia tergabung dalam kelompok silat “Merpati Putih”. Aku menyesal karena sudah terlanjur tidak memilih ekskul yang sama dengan Sam. Padahal awalnya aku ingin masuk ke ekskul itu, untuk meneruskan karirku dalam bidang bela diri.

            Tak terasa, sudah 1 semester aku dan Sam menjadi kakak dan adik kelas. Sudah 1 semester pula aku menatapnya satu arah tanpa dia mengetahui keberadaanku. Miris memang, tetapi apa dayaku untuk menjadi dekat dan menjadi sorotannya. Mungkin baginya aku hanyalah angin lalu yang hanya sesaat, tapi bagiku ia lebih dari sekedar angin, bagiku ia udara. Tanpanya tak ada pula semangatku.

            Aku merasa bersalah, karena tujuanku untuk datang ke sekolah sudah teralihkan. Yang awalnya berniat untuk menimba ilmu, namun yang terjadi hanya menimba info Sam. Aku sadar aku sudah seharusnya rajin belajar, tapi apa daya hatiku berkata lain, Sam sudah berhasil mencuri hatiku dan juga pikiranku.

            Setelah sekian lama, aku mulai mencari tahu tentang apapun tentangnya di sosial media. Dia bukan anak yang eksis di Facebook atau semacamnya. Kuberanikan diri untuk menekan tombol ADD FRIEND yang sampai sekarang tak kunjung dikonfirmasinya. Sedih rasanya, namun siapalah aku ini.

            Sore ini aku mengikuti kegiatan pramuka yang tentu saja menginap. Disitu mulai kukenal teman satu angkatanku yang juga “menjabat” sebagai Penggemar Rahasia Para Senior. Entah pesona apa yang dimiliki para senior kami sehingga kami takluk dibuatnya. Sebut saja Barbie, ia teman satu regu denganku. Ia juga anak Merpati Putih. Jujur aku sering merasa iri dengannya, ia yang terkenal supel dan cantik. Tak heran maka banyak senior yang terpikat olehnya.

            Malam saat kami sedang menikmati dingin, kami dikejutkan dengan suara Barbie yang baru saja mendapat pesan singkat dari Sam, “EH MAS SAM SMS AKU NIH!”. Saat aku mendengarnya, entah apa yang telah menyambar hatiku hingga menusuk ke dalam. Sakit sekali. Karena tak tahan dengan hal itu, aku memilih pergi dari kawananku.
            Setelah kejadian itu, mulai pupus harapanku untuk mendapatkan sosok tampan ber-ninja itu. Tetapi saat harapan itu pupus, sosok itu justru datang kembali membawa sejuta pesona barunya hingga hatiku tak kuasa menolak pesonanya, “AAA SAM POTONG KUMIS JADI TAMBAH CUTEEEE!!!”.

            Selepas kedatangan dia kembali ke hatiku, banyak kejadian yang mulai mendekatkan aku dengannya kembali. Bertemu di Musholla, dan entah berapa kali mata kami bertemu. Aku sangat menikmati kedekatan kami yang jauh itu. Aku senang kami bisa sedekat ini.

            Suatu hari kulihat ia bermain basket di lapangan,
“Sungguh tampan ciptaan-Mu yang satu itu ya Tuhan” , gumamku.
Peluh yang membasahi wajahnya, membuatnya terlihat lebih tampan, lebih keren dari biasanya. Entah apa lagi yang menyambar hatiku, rasanya seperti tersambar petir yang membawa zat-zat aneh yang disebut cinta.

“Dia tampan, apa mungkin ia menyukaiku? Atau hanya pungguk yang merindukan bulan?”

            Di siang yang panas ini, seperti biasa, kulekatkan pandanganku ke arah XII IPA 4, kelas Sam. Terlintas di benakku, sedang apa ia sekarang. Apa yang dia pikirkan sekarang. Ah tapi sudahlah, siapakah aku ini. Suatu saat, aku mencoba membuka profilnya di facebook. Saat aku mulai men-stalking accountnya, saat itu jugalah aku patah hati. Kulihat seorang perempuan yang tidak kukenal, memasang nama Sam sebagai sampulnya. Patah hatilah aku. Pupus sudah harapanku. Aku tak lagi berharap apapun tentang dia (lagi).

            Saat ku mulai berhenti untuk menyukainya, dia justru datang. Berusaha mengobati luka lamaku mungkin. Harapanku yang hancur kini mulai ditata ulang olehnya, entahlah. Tapi aku senang dia datang kembali. Ia tersenyum padaku, ia mulai bercerita tentang masa lalunya padaku. Aku dan dia dekat, sekarang. Bahkan tempat duduk di ninjanya pernah kutempati. Tak pernah kusangka bisa sedekat ini, lebih dekat dari sekedar senyum dari kejauhan. Ya memang status kami hanya teman, tapi apalah arti sebuah status? Aku bahagia bisa SEDEKAT ini dengannya. Merengkuh tangannya, merasakan hangatnya genggamannya. Seakan dialah milikku, dan akulah miliknya. “Tuhan, jangan pisahkan kami (lagi)” batinku. Dialah semangat hidupku yang pernah hilang dan sekarang datang kembali.

            Tak terasa sudah satu tahun aku menjadi adik kelas Sam. Kabarku sekarang baik, Sam juga baik. Tapi kisah kami tidak.

            Hari itu malam perpisahan di sekolah kami. Aku datang kesana tanpa Sam. Sam berkata bahwa ia tak akan datang karena ia tak menyukai pesta. Saat arlojiku menunjukkan angka 10, aku melihat sosok tampan yang sangat kukenali wajahnya, sangat kuhafal wangi parfumnya. Ya, itu Sam! Lalu mengapa ia disini? Coba kubuntuti dia sampai akhirnya ia berhenti di depan kelasnya. Aku hanya bisa melihat dari ujung lorong. Tempat dimana Sam tidak menyadari keberadaanku. Aku melihat Sam berbicara dengan seorang perempuan yang aku kenal. Ya, dia sahabatku sendiri, Lia. Kulihat dari kejauhan, Sam memberi sekuntum mawar merah lengkap dengan kado berkotak merah muda. Tak lupa Sam memberi kecupan di dahi Lia. Betapa hancur hatiku melihat kejadian itu. Kejadian yang lebih memilukan daripada remidi fisika.

“Jadi apa arti genggaman tangan itu? Apa arti semua puisi yang dikirimkannya di pagi hari? Apa arti setiap lagu yang pernah ia mainkan untukku? Apa arti semua mawar merah yang selalu ia berikan setiap pagi?”

Tak kusadari air mataku perlahan jatuh membasahi pipiku, dadaku terasa sesak, ingin rasanya kubunuh mereka.

            Melihat mereka yang seperti itu, tanpa pikir panjang lagi aku pergi menghampiri sepedaku. Kukayuh pedal dengan sekuat tenaga hingga darah mulai mengalir dari kakiku.

“Hatiku berdarah, begitu pula kakiku. Lalu bagaimana aku akan bangkit?”

Air mata yang menetes, darah, serta hujan mengiringi sakit hatiku di malam itu.



Merpatiku Telah Hilang Pergi. 
 

The Incredible One Copyright © 2009 Baby Shop is Designed by Ipietoon Sponsored by Emocutez